https://docs.google.com/file/d/0BzT-eFdhFL40Y0tXaU1BbFRNRlk/edit
Nama Kelompok : Arga Gautama, Feble Fuji P, Fitrianti Purwanti, GT.Gilang R.M, Kristian Antoni
1. Perencanaan
Kapasitas dan Proses
Kapasitas
produksi pembuatan Teh Kalakai dibuat berdasarkan atas potensi pasar.
Perencanaan kapasitas produksi untuk Teh Kalakai ini ditetapkan berdasarkan
pendekatan terhadap proyeksi permintaan produk atau aspek pasar Teh di kota
Banjarbaru, sehingga akan diperoleh perkiraan atau asumsi konsumsi potensial
Teh Kalakai sebagai berikut:
|
Proyeksi
permintaan pasar kota Banjarbaru
|
|||
|
Tahun
|
Konsumsi
Teh di Kota Banjarbaru (kg)
|
Konsumsi
Potensial (%)
|
Teh
Kalakai (kg)
|
|
2011
|
95.000
|
4
|
3.800
|
|
2012
|
100.206
|
4
|
4.008
|
|
2013
|
105.697
|
4
|
4.227,9
|
|
2014
|
111.489
|
4
|
4.459,6
|
|
2015
|
117.598
|
4
|
4.703,9
|
|
2016
|
124.024
|
4
|
4.961,7
|
|
2017
|
130.839
|
4
|
5.233,6
|
Berdasarkan perkiraan
konsumsi Teh Kalakai pada tahun 2014 di Kota Banjarbaru, dapat diketahui
kapasitas produksi Teh Kalakai yang akan direncanakan sebesar 4.459,6kg per
tahun atau sebesar 371,63 kg/ bulan.
1.1.Perencanaan
Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Pembantu
Perencanaan kebutuhan
bahan baku untuk produksi teh kalakai meliputi daun tanaman kalakai yang yang banyak
dijumpai di pasaran. Pemilihan bahan baku didasarkan pada ciri- ciri fisik
seperti utuh dan segar. Kebutuhan bahan baku daun kalakai sebanyak 12,387 kg
per hari dengan harga Rp 8.000,00/ kg.
Kertas teh celup yang
digunakan adalah kertas food grade
dengan kualitas yang baik, yaitu berwarna putih dan bersih. Kertas teh celupyang
dibutuhkan dalam proses produksi adalah sebesar 2.500 meter per roll dengan
harga Rp 750.000.
1.2.Kebutuhan
Utilitas
Kebutuhan air dalam
produksi teh kalakai ini adalah untuk digunakan dalam proses pencucian daun
kalakai, pencucian alat, dan penggunaan lain- lain. Kebutuhan air dalam 1 hari
proses produksi adalah sebesar 1,089 m3. Sehingga pemakaian air yang
dibutuhkan untuk proses produksi setiap bulannya adalah sebesar Rp 742.290,00.
Kebutuhan listrik dalam
produksi teh kalakai ini dibutuhkan oleh mesin penggilingan, mesin pengering,
dan mesin pengemas. Sehingga asumsi daya semua alat 2,28 kwh, sehingga total
daya yang listrik yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam 1 bulan adalah
sebesar Rp 1.110.990,00.
2. Analisis
Finansial
Analisis finansial yang dilakukan meliputi analisis
biaya modal, biaya operasional, harga pokok produksi (HPP) dan analisis break
even point (BEP).
2.1.Investasi
Awal
Investasi awal dalam
pembuatan teh kalakai terdiri atas modal tetap dan modal kerja untuk membangun
dan mengawali suatu proses pembuatan industri teh kalakai.
1. Modal tetap
Modal tetap dalam pembuatan teh kalakai meliputi
biaya persiapan dan perijinan, biaya kebutuhan peralatan produksi, peralatan
kerja, alat transportasi dan biaya tidak terduga (5% dari total biaya). Hasil
perhitungan modal tetap didapatkan modal tetap sebesar Rp 379.795.500.
Rekapitulasi modal tetap dapat dilihat pada tabel:
|
Rekapitulasi
modal tetap
|
||
|
No
|
Jenis
|
Biaya
(Rp)
|
|
1
|
Persiapan
|
30.000.000
|
|
2
|
Peralatan
produksi
|
70.860.000
|
|
3
|
Peralatan
kantor
|
5.850.000
|
|
5
|
Alat transportasi
|
150.000.000
|
|
6
|
Pemasaran produk (promosi)
|
105.000.000
|
|
7
|
Biaya tak terduga
|
18.085.500
|
|
Total
|
379.795.500
|
|
2. Modal Kerja
Dari hasil
perhitungan didapatkan modal kerja sebesar Rp 64.061.624. Rekapitulasi dana
modal kerja dapat dilihat pada tabel. Perhitungan modal kerja yang dilakukan,
berdasarkan atas waktu keterikatan dana dalam modal kerja, yaitu waktu yang
diperlukan sejak kas dikeluarkan untuk melakukan operasi sampai dengan kembali
menjadi kas dan pengeluaran kas per hari.
|
Rekapitulasi dana modal kerja per
bulan
|
||
|
No
|
Jenis
|
Total
(Rp)
|
|
1
|
Bahan baku
|
4.125.000
|
|
2
|
Bahan pengemas
|
22.500.000
|
|
3
|
Utilitas
|
18.386.070
|
|
4
|
Tenaga kerja
|
10.000.000
|
|
5
|
Pemeliharaan alat dan bangunan
|
6.000.000
|
|
6
|
Biaya tak terduga
|
3.050.554
|
|
Total
|
64.061.624
|
|
2.2.Biaya
Biaya dalam pembuatan teh kalakai
terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Dari hasil perhitungan,
didapatkan total biaya tetap dan tidak tetap masing- masing sebesar Rp
470.664.338,00 dan Rp 644.152.766,00, sehingga didapatkan total biaya selama 1
tahun sebesar Rp 1.114.817.104,00. Rekapitulasi biaya tetap dan tidak tetap dapat
dilihat pada tabel:
|
Biaya
tetap per tahun
|
||
|
No
|
Jenis
|
Biaya
(Rp)
|
|
1
|
Upah tenaga
kerja tak langsung
|
414.000.000
|
|
2
|
Pemeliharaan
|
5.667.750
|
|
3
|
Biaya utilitas
|
28.584.000
|
|
4
|
Penyusutan modal tetap
|
22.412.588
|
|
Total
|
470.664.338
|
|
|
Biaya
tidak tetap per tahun
|
||
|
No
|
Jenis
|
Biaya
(Rp)
|
|
1
|
Gaji tenaga
kerja langsung
|
20.000.000
|
|
2
|
Bahan baku
|
49.500.000
|
|
3
|
Bahan pengemas
|
270.000.000
|
|
4
|
Utilitas
|
220.632.840
|
|
5
|
Biaya barang kembali (15%)
|
84.019.926
|
|
|
Total
|
644.152.766
|
2.3.Harga
Pokok Produksi
Total biaya produksi
selama 1 tahun teh kalakaiadalah sebesar Rp 1.114.817.104 dan biaya tidak tetap
per unit sebesar Rp 3.253,3. Harga pokok produksi adalah sebesar Rp 10.000/
kotak. Harga jual yang dihitung di tingkat produsen hingga konsumen adalah Rp
14.000,00, dengan asumsi pengambilan keuntungan (mark up) sebesar 40% dari harga pokok produksi. Pertimbangan harga
jual disesuaikan dengan kondisi produk sejenis yang ada di pasaran.
|
Harga perkiraan biaya produksi teh
kalakai
|
||
|
No
|
Jenis
|
Jumlah (Rp)
|
|
1
|
Biaya tetap selama 1 tahun (FC)
|
470.664.338
|
|
2
|
Biaya
tidak tetap selama 1 tahun (VC)
|
644.152.766
|
|
3
|
Total
biaya selama 1 tahun (TC)
|
1.114.817.104
|
|
4
|
Jumlah
produksi selama 1 tahun (unit)
|
198.000
|
|
5
|
Biaya
tidak tetap per unit (VC/unit)
|
3.253,3
|
R/C
ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara Penerimaan usaha
(Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = C). Dalam batasan besaran nilai R/C dapat
diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan. Secara garis besar dapat dimengerti bahwa
suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar
dibandingkan dengan biaya usaha.
Ada
3 (tiga) kemungkinan yang diperoleh dari perbandingan antara Penerimaan (R)
dengan Biaya (C), yaitu : R/C = 1; R/C
> 1 dan R/C < 1.
Namun demikian
oleh karena adanya unsur keuntungan sebesar 0,3 maka analisis kelayakan dari R/C ratio adalah :
a. R/C > 1,3 = Layak / Untung
b. R/C = 1,3 = BEP
c. R/C < 1,3 = Tidak Layak / Rugi.
Dalam industri teh kalakai ini didapatkan Revenue adalah sebanyak Rp 14.000 x
198.000 unit = Rp 2.772.000.000. Sehingga didapatkan BEP-nya adalah:
R/C =
2.772.000.000/1.114.817.104 = 2,4. Berarti industri teh kalakai ini
menguntungkan.
Gambar kedua diatas merupakan gambar peta aliran proses dan peta proses oprasi dari perencanaan proyek industri teh kelakai.

.png)