Minggu, 28 Desember 2014

TUGAS PERENCANAAN PROYEK INDUSTRI KELOMPOK TEH KALAKAI

FILE PDF PERENCANAAN INDUSTRI TEH KALAKAI DAPAT DIDOWNLOAD DI ALAMAT INI
https://docs.google.com/file/d/0BzT-eFdhFL40Y0tXaU1BbFRNRlk/edit 



Nama Kelompok : Arga Gautama, Feble Fuji P, Fitrianti Purwanti, GT.Gilang R.M, Kristian Antoni
1.      Perencanaan Kapasitas dan Proses
Kapasitas produksi pembuatan Teh Kalakai dibuat berdasarkan atas potensi pasar. Perencanaan kapasitas produksi untuk Teh Kalakai ini ditetapkan berdasarkan pendekatan terhadap proyeksi permintaan produk atau aspek pasar Teh di kota Banjarbaru, sehingga akan diperoleh perkiraan atau asumsi konsumsi potensial Teh Kalakai sebagai berikut:
Proyeksi permintaan pasar kota Banjarbaru
Tahun
Konsumsi Teh di Kota Banjarbaru (kg)
Konsumsi Potensial (%)
Teh Kalakai (kg)
2011
95.000
4
3.800
2012
100.206
4
4.008
2013
105.697
4
4.227,9
2014
111.489
4
4.459,6
2015
117.598
4
4.703,9
2016
124.024
4
4.961,7
2017
130.839
4
5.233,6
Berdasarkan perkiraan konsumsi Teh Kalakai pada tahun 2014 di Kota Banjarbaru, dapat diketahui kapasitas produksi Teh Kalakai yang akan direncanakan sebesar 4.459,6kg per tahun atau sebesar 371,63 kg/ bulan.
1.1.Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Pembantu
Perencanaan kebutuhan bahan baku untuk produksi teh kalakai meliputi daun tanaman kalakai yang yang banyak dijumpai di pasaran. Pemilihan bahan baku didasarkan pada ciri- ciri fisik seperti utuh dan segar. Kebutuhan bahan baku daun kalakai sebanyak 12,387 kg per hari dengan harga Rp 8.000,00/ kg.
Kertas teh celup yang digunakan adalah kertas food grade dengan kualitas yang baik, yaitu berwarna putih dan bersih. Kertas teh celupyang dibutuhkan dalam proses produksi adalah sebesar 2.500 meter per roll dengan harga Rp 750.000.
1.2.Kebutuhan Utilitas
Kebutuhan air dalam produksi teh kalakai ini adalah untuk digunakan dalam proses pencucian daun kalakai, pencucian alat, dan penggunaan lain- lain. Kebutuhan air dalam 1 hari proses produksi adalah sebesar 1,089 m3. Sehingga pemakaian air yang dibutuhkan untuk proses produksi setiap bulannya adalah sebesar Rp 742.290,00.
Kebutuhan listrik dalam produksi teh kalakai ini dibutuhkan oleh mesin penggilingan, mesin pengering, dan mesin pengemas. Sehingga asumsi daya semua alat 2,28 kwh, sehingga total daya yang listrik yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam 1 bulan adalah sebesar Rp 1.110.990,00.
2.      Analisis Finansial
Analisis finansial yang dilakukan meliputi analisis biaya modal, biaya operasional, harga pokok produksi (HPP) dan analisis break even point (BEP).
2.1.Investasi Awal
Investasi awal dalam pembuatan teh kalakai terdiri atas modal tetap dan modal kerja untuk membangun dan mengawali suatu proses pembuatan industri teh kalakai.
1. Modal tetap
Modal tetap dalam pembuatan teh kalakai meliputi biaya persiapan dan perijinan, biaya kebutuhan peralatan produksi, peralatan kerja, alat transportasi dan biaya tidak terduga (5% dari total biaya). Hasil perhitungan modal tetap didapatkan modal tetap sebesar Rp 379.795.500. Rekapitulasi modal tetap dapat dilihat pada tabel:
Rekapitulasi modal tetap
No
Jenis
Biaya (Rp)
1
Persiapan
30.000.000
2
Peralatan produksi
70.860.000
3
Peralatan kantor
5.850.000
5
Alat transportasi
150.000.000
6
Pemasaran produk (promosi)
105.000.000
7
Biaya tak terduga
18.085.500
Total
379.795.500
2. Modal Kerja
Dari hasil perhitungan didapatkan modal kerja sebesar Rp 64.061.624. Rekapitulasi dana modal kerja dapat dilihat pada tabel. Perhitungan modal kerja yang dilakukan, berdasarkan atas waktu keterikatan dana dalam modal kerja, yaitu waktu yang diperlukan sejak kas dikeluarkan untuk melakukan operasi sampai dengan kembali menjadi kas dan pengeluaran kas per hari.
            Rekapitulasi dana modal kerja per bulan
No
Jenis
Total (Rp)
1
Bahan baku
4.125.000
2
Bahan pengemas
22.500.000
3
Utilitas
18.386.070
4
Tenaga kerja
10.000.000
5
Pemeliharaan alat dan bangunan
6.000.000
6
Biaya tak terduga
3.050.554
Total
64.061.624
2.2.Biaya
Biaya dalam pembuatan teh kalakai terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Dari hasil perhitungan, didapatkan total biaya tetap dan tidak tetap masing- masing sebesar Rp 470.664.338,00 dan Rp 644.152.766,00, sehingga didapatkan total biaya selama 1 tahun sebesar Rp 1.114.817.104,00. Rekapitulasi biaya tetap dan tidak tetap dapat dilihat pada tabel:
Biaya tetap per tahun
No
Jenis
Biaya (Rp)
1
Upah tenaga kerja tak langsung
414.000.000
2
Pemeliharaan
5.667.750
3
Biaya utilitas
28.584.000
4
Penyusutan modal tetap
22.412.588
Total
470.664.338

Biaya tidak tetap per tahun
No
Jenis
Biaya (Rp)
1
Gaji tenaga kerja langsung
20.000.000
2
Bahan baku
49.500.000
3
Bahan pengemas
270.000.000
4
Utilitas
220.632.840
5
Biaya barang kembali (15%)
84.019.926

Total
644.152.766

2.3.Harga Pokok Produksi
Total biaya produksi selama 1 tahun teh kalakaiadalah sebesar Rp 1.114.817.104 dan biaya tidak tetap per unit sebesar Rp 3.253,3. Harga pokok produksi adalah sebesar Rp 10.000/ kotak. Harga jual yang dihitung di tingkat produsen hingga konsumen adalah Rp 14.000,00, dengan asumsi pengambilan keuntungan (mark up) sebesar 40% dari harga pokok produksi. Pertimbangan harga jual disesuaikan dengan kondisi produk sejenis yang ada di pasaran.
Harga perkiraan biaya produksi teh kalakai
No
Jenis
Jumlah (Rp)
1
Biaya tetap selama 1 tahun (FC)
470.664.338
2
Biaya tidak tetap selama 1 tahun (VC)
644.152.766
3
Total biaya selama 1 tahun (TC)
1.114.817.104
4
Jumlah produksi selama 1 tahun (unit)
198.000
5
Biaya tidak tetap per unit (VC/unit)
3.253,3


R/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = C).  Dalam batasan besaran nilai R/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.  Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar dibandingkan dengan biaya usaha.
Ada 3 (tiga) kemungkinan yang diperoleh dari perbandingan antara Penerimaan (R) dengan Biaya (C), yaitu : R/C = 1;  R/C > 1 dan  R/C < 1.
Namun demikian oleh karena adanya unsur keuntungan sebesar 0,3 maka  analisis kelayakan dari R/C ratio adalah :
a.  R/C > 1,3 = Layak / Untung
b.  R/C = 1,3 = BEP
c.   R/C < 1,3 = Tidak Layak / Rugi.
Dalam industri teh kalakai ini didapatkan Revenue adalah sebanyak Rp 14.000 x 198.000 unit = Rp 2.772.000.000. Sehingga didapatkan BEP-nya adalah:
R/C = 2.772.000.000/1.114.817.104 = 2,4. Berarti industri teh kalakai ini menguntungkan.


Gambar kedua diatas merupakan gambar peta aliran proses dan peta proses oprasi dari perencanaan proyek industri teh kelakai.